Jejak Singkat Suku Bangsa di Pulau Kaltim

Potret masyarakat Suku Dayak tempo dulu. (Ilustrasi: Pesaguan)

Rimbanusa.id – Penduduk asli Kalimantan terdiri dari pelbagai macam suku. Buku “Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia” yang ditulis Melalatoa, M. J. (1995), menggurat selarik sejarah dari mereka yang merintis kehidupan di pedalaman dan belantara Borneo.

Kalimantan Timur terletak di ujung timur Pulau Kalimantan merupakan salah satu wilayah yang banyak diisi masyarakat lokal. Tersebar di tanah seluas 127.346,92 kilometer persegi, mereka hidup damai berdampingan sejak ratusan tahun lalu hingga kini.

Pasir, misalnya. Suku asli di Kabupaten Pasir ini hidup di pinggir aliran sungai. Sebagian dari mereka juga hidup di perbukitan hutan belantara. Suku Pasir sendiri terbagi menjadi lima kelompok. Uniknya, mereka memiliki letak permukiman yang beragam antara satu dengan lainnya.

Pertama, Pasir Telake. Mereka merupakan suku yang banyak mendiami kawasan Sungai Telake dari hulu sampai muara sungai. Kedua, Pasir Adang. Suku ini bermukim di sekitaran Sungai Adang termasuk dalam lingkup Kecamatan Long Ikis.

Ketiga, Pasir Kendilo. Suku yang bermukim di dua sungai, yaitu Sungai Kuaro dan Muara Pasir. Letaknya ada di Kecamatan Muara Komang dan Batu Kajang. Keempat, Pasir Labuan, suku yang bermukim di Desa Labuan. Terakhir, Pasir Tanjung Aru, suku yang bermukim di Kecamatan Tanjung Aru.

Selain suku Pasir, ada pula suku asli Kaltim lain; Penihing. Bermukim di Kabupaten Kutai Kartanegara, mereka merupakan bagian dari kelompok Suku Dayak Behau –seperti halnya suku Long Wei dan Huang Tering. Suku ini sejatinya berasal dari Apo Kayan yang kini disebut Kabupaten Bulungan –perbatasan dengan Malaysia Timur. Suku Penihing berimigrasi ke Kukar dari Apo Kayan pada medio 1700 dan menetap di sekitar Sungai Penihing.

Selanjutnya adalah Tukung. Suku ini merupakan bagian dari kelompok suku Dayak yang bermukim di dataran tinggi Apo Kayan. Awalnya, suku ini bermukim di dalam hutan tropis yang lebat di Kalimantan yang sulit dipengaruhi dunia luar. Namun, dalam perkembangannya, suku ini mulai keluar dari dalam hutan dan menyebar ke pelbagai daerah lain. Daerah persebaran mereka di antaranya Desa Ritan Baru dan Desa Pedohon yang merupakan bagian wilayah administratif Kabupaten Kukar.

Selain itu, ada pula Long Paka. Suku ini banyak mendiami kawasan di sekitar aliran Sungai Mahakam. Mereka merupakan pecahan suku Dayak, khususnya Dayak Kayan. Suku ini memiliki kultur yang khas dan berbeda dengan orang-orang Dayak Kayan pada umumnya. Sebab, mereka mengalami akulturasi dengan suku lain bernama Huang Pin.

Adanya akulturasi ini kemudian membentuk suatu kebudayaan baru yang bernuansa Dayak Kayan dan Huang Pin, sehingga orang Long Paka disebut suku baru. Dalam interaksi sehari-harinya, mereka menggunakan bahasa sendiri yang merupakan hasil dari perpaduan dua bahasa, bahasa Dayak Kayan dan Huang Pin. (*)

Editor: Faisal Rahman