Indonesia Akan Coba Dongkrak Harga Sawit yang Jatuh Bangun

Rimbanusa.id – Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) ditutup melemah pada perdagangan terakhir pekan ini dan terus menjauh dari level psikologis MYR 5.000 per ton. Kendati demikian, secara keseluruhan, harga CPO masih menguat 0,94% dalam sepekan.

Mengacu pada data Refinitiv, harga CPO pada perdagangan Jumat, ditutup di posisi MYR 4.708 per ton atau amblas 4,1% dibanding hari sebelumnya. Harga tersebut adalah yang terendah sejak 24 Juni 2022 atau dalam sepekan terakhir saat harganya pada ada di MYR 4.664 per ton.

Harga CPO bergerak di kisaran di kisaran MYR 4.600 per ton pada akhir tahun 2021. Harganya mulai menjulang sejak perang Rusia-Ukraina meletus pada 24 Februari tahun ini. Harga CPO bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi pada 7 Maret 2022 ke MYR 7.074 per ton sebelum akhirnya melandai kembali.

Harga CPO kembali terbang pada akhir April setelah Indonesia mengumumkan kebijakan larangan ekspor CPO mulai 28 April 2022. Harga menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah pada 29 April 2022 di posisi MYR 7.104 per ton.

Harga melandai setelah Indonesia mencabut larangan ekspor per 23 Mei 2022.
Harga CPO kembali jatuh ke bawah MYR 5.000 sejak 20 Juni 2022 setelah Indonesia memberlakukan program percepatan penyaluran ekspor atau dikenal sebagai “flush out”. Akibat kebijakan flush out, harga CPO amblas 14,5% pada pekan lalu.

Dalam sebulan terakhir, harga CPO sudah jatuh 25,9% sedangkan dalam setahun masih menguat 26,9%.

Lembaga rating dan riset asal Amerika Serikat (AS) Fitch Ratings memperkirakan harga CPO makin melandai. Harga CPO kemungkinan akan dibanderol di bawah US$ 1.000/ton pada paruh kedua tahun ini, setelah sempat mencapai harga dengan rata-rata US$1.500/ton di paruh pertama tahun ini.

Penurunan harga CPO dipicu potensi produksi CPO yang lebih tinggi dari Indonesia. Indonesia merupakan produsen terbesar CPO dengan kontribusi sekitar 60% dari total produksi global.

Berdasarkan riset Fitch, produksi CPO Indonesia telah melesat 9% pada kuartal pertama, tapi produksi di Malaysia datar pada lima bulan pertama tahun ini. Department of Agriculture Amerika Serikat (USDA) juga memprediksikan produksi CPO Indonesia akan melesat 8% pada 2022-2023.

Menyusul terus jatuhnya harga CPO, Asosiasi Pengolahan Minyak Sawit Malaysia / Malaysian Palm Oil Millers Association (POMA) mengatakan sejumlah pabrik kelapa sawit di Malaysia akan menghentikan produksi untuk sementara waktu.

Presiden POMA bagian utara Steven Yow mengatakan harga tandan buah segar (TBS) sawit dijual berdasarkan harga rata-rata bulanan yang kini mencapai MYR 6.200. Namun, ekstrak minyak sawit dijual berdasarkan harga harian di pasar internasional.

“Tidak ada pabrik yang mampu membeli harga TBS dengan harga di level sekarang,” tutur Yow, dikutip dari Reuters.

Yow memperkirakan pabrik minyak sawit Malaysia akan menuai kerugian sekitar MYR 150.000 untuk setiap 100 ton CPO yang diproduksi. Menurutnya, harga pembelian CPO yang masuk akal adalah MYR 4.700 per ton.

Namun, keinginan produsen Malaysia ditentang pemerintah. Dilansir dari The Star, Wakil Menteri Industri dan Komoditas Perkebunan Malaysia, Wee Jeck Seng, tetap meminta pabrik untuk membeli tandan tandan buah segar dan melakukan pengilangan minyak sawit. Pasalnya, tandan buah segar akan rusak jika disimpan lebih dari tiga hari.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut B Pandjaitan, Sabtu (2/7/2022), mengatakan pemerintah Indonesia akan mendongkrak penyerapan minyak sawit di dalam negeri. Yaitu, dengan menaikkan penerapan konsumsi sawit untuk bahan bakar, biodiesel dari B30 menjadi B35/B40.

Langkah tersebut diharapkan bisa mendongkrak harga CPO dan menyelamatkan tandan buah segar. (CNBC Indonesia)

 

Editor: Faizah