Melkopolhukam akan Tangani Polemik Pengungsi Rohingya yang Tiba di Aceh

Pengungsi Rohingya datang ke Indonsia secara bergelombang. (Foto: AP/Rahmat Mirza)

Rimbanusa.id – Kedatangan pengungsi Rohingya di tanah Aceh menimbulkan polemik dan muncul penolakan dari warga setempat. Hal ini menjadi sorotan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Ia meminta Menkopolhukam Mahfud Md untuk menangani persoalan itu.

“Ya saya telah memerintahkan kepada Menkopolhukam untuk menangani bersama-sama dengan daerah, bersama-sama dengan UNHCR,” kata Jokowi di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Senin (4/2).

Dalam beberapa minggu terakhir, terdapat kakpan yang membawa ribuan pengungsi Rohingya mendarat di perairan Aceh. Namun, warga menolak pengungsi Rohingya karena dianggap merepotkan dan ketiadaan lahan untuk menampung.

Warga Pantai Ulai Madun, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara menolak menerima para pengungsi Rohingya karena sudah beberapa kali datang dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga sekitar. Meskipun tidak menerima kedatangan mereka, masyarakat setempat masih peduli dan tetap memberikan bantuan berupa makanan dan minuman.

Menkopolhukam, Mahfud menuturkan pengungsi Rohingya yang datang ke Aceh dan sekitarnya melalui jalur laut semakin bertambah. Di sisi lain masyarakat di sana sudah tidak ada tempat untuk menampung.

“Karena ini semakin, ini negara lain sudah nutup. Tapi larinya ke Indonesia semua, semakin bertambah, kita sudah ngasih makan, ngasih tempat. Sekarang orang Aceh, orang Riau, Medan apa itu, ndak ada tempatnya. ndak ada biayanya. Besok akan dikoordinasikan,” ucap Mahfud.

Mahfud mengatakan bahwa Indonesia bisa saja menolak pengungsi Rohingya yang datang, tapi hal itu berbenturan dengan perikemanusiaan. Dia menyebut sudah ada ribuan pengungsi Rohingya yang datang setiap harinya ke Indonesia.

Indonesia memang tidak ikut menandatangani konvensi PBB terkait status pengungsi yang memberikan hak-hak individual untuk memperoleh suaka bagi negara yang menerima. Menurut Mahfud, warga setempat bisa saja menolak, tapi kita punya perikemanusiaan, sehingga saat ini akan kita tampung dulu dan kemudian akan dikoordinasikan dengan pihak-pihak terkait.

“Nah sekarang ini sudah ada 1.478 orang per hari ini dan diperkirakan masih akan membanjir lagi di beberapa tempat. Jadi akan saya koordinasi besok,” ujar Mahfud.

Diketahui, sebanyak 249 pengungsi Rohingya yang tiba menggunakan kapal kayu di Bireuen, Aceh, Kamis (16/11) subuh ditolak warga setempat. Warga menolak pengungsi Rohingya karena dianggap merepotkan.

Sementara itu, polisi mengungkap masyarakat menolak kedatangan pengungsi Rohingya tersebut lantaran tidak ada tempat penampungan. Selain itu, para pengungsi sebelumnya yang melarikan diri dianggap tidak menjaga kebersihan.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menuturkan Indonesia secara aturan tidak memiliki kewajiban untuk menampung atau memberikan suaka permanen untuk menampung pengungsi. Kebijakan Indonesia dalam menampung pengungsi dari luar negeri kerap disalahgunakan.

Total, kini sudah ada 6 gelombang pengungsi Rohingya yang tiba di Aceh. Dalam 6 gelombang ini, terdapat hampir 1.000 imigran yang tiba di Aceh.

Terpisah, Kapolda Aceh Irjen Achmad Kartiko meminta UNHCR untuk bertanggung jawa atas gelombang pengungsi Rohingya yang berdatangan ke Aceh.

Achmad menuturkan dari hasil penyelidikan para pengungsi yang datang ke Aceh ini rata-rata memiliki identitas dari UNHCR yang berbahasa Banglasdesh. (Sumber: DetikNews/Kadek Melda Luxiana)

Editor: Bintang