Kemenkes Temukan Kasus Baru Cacar Monyet di Jakarta

Tabung mini hasil pengujian sampel cacar monyet. (Foto: Reuters)

Rimbanusa.id – Kementerian Kesehatan RI melaporkan kasus penyakit cacar monyet atau monkeypox ditemukan di DKI Jakarta.

Total ada tujuh orang yang menjadi kontak erat kasus baru cacar monyet atau Mpox di Jakarta. Ketujuh orang tersebut tidak melakukan pemeriksaan monkeypox lantaran nihil gejala.

Cacar monyet adalah penyakit zoonosis langka yang disebabkan oleh infeksi virus monkeypox. Gejala khas dari cacar monyet adanya pembengkakan kelenjar getah bening atau limfadenopati. Pembengkakan kelenjar getah bening dirasakan pada bagian leher, selangkangan, dan ketiak. Nyeri otot atau mialgia, dapat terjadi bila penderita mengalami cedera, infeksi, atau masalah kesehatan lainnya.

Hingga kini, terpantau belum ada penambahan kontak erat dari pasien berusia 30 tahun yang mengeluhkan banyak lesi. Lesi ada di 10 titik bagian tubuh termasuk perianal yakni area sekitar masuknya lubang anus, sampai di dalam anus manusia.

“Semua kontak erat pasien tidak bergejala,” ungkap Kepala Biro Komunikasi Kemenkes RI dr Siti Nadia Tarmizi, dilansir dari detik.com Kamis (19/10).

Nadia mengatakan sejauh ini belum ditemukan penambahan terkait kontak erat kasus cacar monyet.

Pemerintah sejauh ini mencata ada dua kasus Mpox sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sempat menetapkan cacar monyet sebagai Public Health Emergency International Concern (PHEIC), menyusul COVID-19, lalu statusnya kembali dicabut lantaran penularan kasus Mpox di banyak negara mulai mereda.

“Ada satu kasus. Jadi total kasus cacar monyet di Indonesia ada dua kasus,” kata Nadia.

Sebelumnya, kasus cacar monyet pernah ditemukan di Jakarta pada 20 Agustus 2022.

Nadia mengatakan, pihaknya masih menelusuri lebih lanjut apakah pasien tersebut memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri. Sebab, kasus cacar monyet yang ditemukan di Indonesia umumnya merupakan kasus impor atau berasal dari luar negeri.

Dicky Budiman, ahli epidemiologi dari Universitas Griffith Australia menerangkan, Mpox bisa saja menyebar diam-diam tanpa disadari menjadi wabah masyarakat.

Hal ini menurutnya dipicu oleh penularan Mpox yang terjadi di kelompok yang tertutup, tidak terbuka dengan gejala yang dikeluhkan sehingga relatif sulit diberantas.

Dicky menilai kasus ini bukan hal yang mengagetkan, ia menilai kecenderungan penyakit Mpox ini kemungkinan akan menjadi epidemi, bukan pandemi. Namun, penyakit ini bisa saja menyebat secara diam-diam ke masyarakat.

Awal Mula Munculnya Gejala

Dr dr Windy Keumala Budianti SpKK dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menyampaikan bahwa pasien yang datang ke fasilitas kesehatan awalnya mengungkapkan keluhan gejala mirip jerawat yang sudah menetap selama dua hari.

Pasien desebutnya membiarkan lesi tersebut, tidak berusaha menyingkirkan dengan cara memencet ataupun tindakan lainnya. Selain muncul di sekitar anus, lesi juga menjalar ke bagian tubuh lain termasuk tangan, hingga tungkai.

“Badan sempat demam selama dua hari, tetap nihil keluhan nyeri kepala dan nyeri otot. Pasien hanya merasakan nyeri pegal secara umum selama tiga hari sebelum muncul lesi,” ujar Windy.

Windy menyampaikan terdapat 10 lesi yang muncul pada pasien yang datang kepadanya.

Editor: Bintang