Keutamaan malam Nisfu Syaban dijelaskan dalam sejumlah riwayat hadits serta pendapat para ulama. Malam ini kerap dikaitkan dengan limpahan ampunan Allah SWT kepada hamba-Nya, sehingga dipandang sebagai waktu yang istimewa untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.
Selain itu, malam Nisfu Syaban juga dipahami sebagai momentum untuk melakukan muhasabah diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta meningkatkan amal kebaikan sebagai persiapan menyambut bulan Ramadan.Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia tahun 2026, 1 Syaban 1447 H bertepatan dengan tanggal 20 Januari 2026. Dengan demikian, Nisfu Syaban yang jatuh pada 15 Syaban 1447 H diperingati pada 3 Februari 2026. Sejalan dengan itu, Malam Nisfu Syaban dimulai sejak terbenam matahari atau waktu Magrib pada 2 Februari 2026.
Keutamaan Bulan Nisfu Syaban
Dinukil Dalam buku Keutamaan dan Ibadah Malam Nisfu Syaban karya Muhammad Juriyanto dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW memuliakan bulan Syaban dengan memperbanyak amalan ibadah melebihi hari-hari lainnya. Karena itu, meningkatkan ibadah pada bulan Syaban sangat dianjurkan, sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.Anjuran tersebut semakin ditekankan pada malam Nisfu Syaban, karena terdapat banyak hadits yang menjelaskan keutamaan malam tersebut dibandingkan hari-hari lain dalam bulan yang sama. Riwayat tentang keutamaan Nisfu Syaban memiliki kualitas yang beragam, mulai dari hadits shahih hingga dha’if.
Salah satu di antaranya menyebutkan bahwa pada malam Nisfu Syaban Allah SWT mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali orang yang menyekutukan Allah dan orang yang bermusuhan, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Imam al-Thabrani dan Ibnu Hibban dari Mu’adz bin Jabal RA dari Nabi Muhammad SAW
Artinya; “Allah SWT melihat kepada makhluk-Nya pada malam Nisfu Syaban, lalu memberikan ampunan kepada seluruh makhluk-Nya kecuali kepada orang yang menyekutukan Allah atau orang yang bermusuhan.”
Lebih lanjut diperkuat dalam Buku Ngaji Kuping oleh Casudi, dijelaskan bahwa pada malam Nisfu Syaban terdapat golongan manusia yang tidak memperoleh ampunan dari Allah SWT. Di antaranya adalah orang-orang yang melakukan perbuatan syirik, terlibat dalam praktik sihir, serta juru tebak atau peramal. Selain itu, mereka yang menyimpan permusuhan atau sengit-sengitan, memutus tali silaturahmi, dan melakukan perbuatan zina juga termasuk golongan yang terhalang dari ampunan pada malam tersebut.Golongan lain yang disebutkan adalah orang-orang yang terbiasa mabuk-mabukan, durhaka kepada kedua orang tua, gemar mengadu domba hingga menimbulkan permusuhan, serta mereka yang memakan riba atau bunga. Oleh karena itu, malam Nisfu Syaban menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbanyak introspeksi diri, meninggalkan perbuatan dosa, serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.
Kedua, salah satu keutamaan malam Nisfu Syaban adalah dianjurkannya memperbanyak doa kepada Allah SWT. Permohonan yang dipanjatkan pada malam tersebut diyakini memiliki keutamaan dan peluang besar untuk dikabulkan. Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Baihaqi dari Usman bin Abi al-‘Ash RA dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda
;إذا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ نَادَى مُنَادٍ: هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرُ لَهُ؟ هَلْ مِنْ سَائِلِ فَأُعْطِيْهِ؟ فَلَا يَسْأَلُ أَحَدٌ شَيْئًا إِلَّا أُعْطِيْ إِلَّا زَانِيَةً بِفَرْجِهَا أَوْ مُشْرِكًا
Artinya: “Apabila datang malam Nishu Sya’ban, ada pemanggil (Allah) berseru: “apakah ada orang yang memohon ampun dan Aku akan mengampuninya? Apakah ada yang meminta dan Aku akan memberinya? Tidak ada seseorang pun yang meminta sesuatu kecuali Aku akan memberinya, kecuali wanita pezina atau orang musyrik”
Ketiga, malam Nisfu Syaban juga memiliki keutamaan untuk diisi dengan pelaksanaan shalat sunnah malam. Anjuran tersebut didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Baihaqi dari ‘Ala’ bin Haris, yang menyebutkan
;أَنَّ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَامَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم مِنَ اللَّيْلِ يُصَلِّي فَأَطَالَ السُّجُوْدَ حَتَّى ظَنَنْتُأَنَّهُ قَدْ قُبِضَ، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ قُمْتُ حَتَّى حَرَّكْتُ إِبْهَامَهُ فَتَحَرَّكَ، فَرَجَعْتُ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السُّجُودِ، وَفَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ، قَالَ: ” يَا عَائِشَةَ أَوْ يَا حُمَيْرُاءَ ظَنَنْتَ أَنَّ النَّبِيَّ خَاسَ بِكَ؟، قُلْتُ: لَا وَاللَّهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَلَكِنِّي ظَنَنْتُ أَنَّكَ قُبِضْتَ لِطُولِ سُجُودِكَ، فَقَالَ : أَتَدْرِيْنَ أَيُّ لَيْلَةٍ هَذِهِ؟”، قُلْتُ : اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِينَ، وَيَرْحَمُ المِسْتَرْحِمِينَ، وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الحِقْدِ كَمَا هُمْ.
Artinya; “Sesungguhnya Sayyidah A’isyah berkisah: “Suatu malam Nabi Saw shalat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Nabi Saw telah diambil (wafat), karena curiga maka aku berdiri dan aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Nabi Saw selesai shalat beliau berkata: “Hai Aisyah, apakah engkau menduga Nabi Saw tidak memperhatikanmu?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Nabi Saw telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. Aku menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih tahu.” Nabi Saw berkata, “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki”Anjuran sholat sunnah malam juga didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Baihaqi dari ‘Ala’ bin Haris, yang menyebutkan
;وَقَدْ سُئِلَ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى عَنْ صَلَاةِ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَأَجَابَ : إِذَا صَلَّى الْإِنْسَانُ لَيْلَةَ النِّصْفِ وَحْدَهُ أَوْ فِي جَمَاعَةٍ خَاصَّةٍ كَمَا كَانَيَفْعَلُ طَوَائِفُ مِنَ السَّلَفِ فَهُوَ حَسَنٌ.
Artinya; “Ibnu Taimiyah ditanya tentang shalat malam Nisfu Syaban, maka ia menjawab: “Apabila seseorang menunaikan shalat pada malam Nisfu Sya’ban, sendirian atau bersama jamaah tertentu sebagaimana dikerjakan oleh banyak kelompok kaum salaf, maka hal itu baik.”
Berdasarkan uraian tersebut, umat Islam sangat dianjurkan untuk menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan berbagai bentuk ibadah dan amal kebaikan. Amalan tersebut dapat berupa memperbanyak istighfar, melaksanakan shalat sunnah secara berjamaah, membaca Surah Yasin, serta menutupnya dengan doa dan permohonan kepada Allah SWT.
Menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan ibadah diyakini memiliki keutamaan besar, di antaranya sebagai sarana meraih ampunan Allah, memperbanyak rahmat, serta mendekatkan diri kepada-Nya. Malam ini juga menjadi momentum bagi setiap muslim untuk melakukan muhasabah, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia, serta mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadan dengan hati yang bersih dan penuh ketakwaan. (*)
Sumber : Detik.com





