Baby Blues dan Depresi Postpartum, Kenali Perbedaanya

Ilustrasi baby blues. (Foto: Getty Images)

Rimbanusa.id – Perubahan suasana hati atau biasa disebut sindrom baby blues umumnya muncul pada dua sampai tiga hari pasca-melahirkan.

Ibu dengan sindrom baby blues akan mengalami perubahan emosi secara signifikan, rasa sedih, mudah tersinggung, stres, kerap menangis dan kualitas tidur berkurang. Selain itu, ibu juga merasa cemas karena khawatir tidak dapat merawat bayi dengan baik.

Baby blues sebenarnya merupakan bentuk depresi ringan dan bersifat sementara yang akan hilang begitu hormon sudah stabil. Umumnya akan hilang dalam dua minggu pertama setelah melahirkan.

Psikolog klinis Nuran Abdat, M. Psi, mengatakan, perempuan memiliki resiko tiga kali lebih besar untuk mengalami depresi dibandingkan laki-laki, Kamis (3/8).

Nuran mengungkap ada dua jenis depresi yang bisa dialami ibu pasca melahirkan, yakni sindrom baby blues dan depresi postpartum. Kuda jenis depresi ini merupakan masalah mental yang berbeda.

“Sekitar 80 persen wanita hamil dan melahirkan itu ternyata justru menghadapi kondisi baby blues yang lebih banyak akan tetapi baby blues ini ternyata cikal bakal atau kemungkinan-kemungkinan seseorang dapat menghadapi postpartum depression,” terang Nuran.

Jangka waktu terjadinya gejala seringkali menjadi faktor pembeda karena beby blues akan mereda setelah beberapa minggu, sementara postpartum depression dapat bertahan lebih lama bahkan hingga satu tahun.

Baby blues umumnya disebabkan oleh perubahan hormonal yang dialami ibu setelah melahirkan, dan intensitasnya dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis.

Sementara postpartum depression merupakan kondisi yang lebih berat. Ibu akan mengalami perasaan sedih, putus asa yang berlebihan, merasa tidak berguna dan tidak mampu menjadi ibu yang baik. Hal ini akan berakibat terganggunya kemampuan ibu dalam merawat bayi dan aktivitas sehari-harinya.

Pengidap postpartum depression juga mengalami kesulitan membangun ikatan dengan bayi. Bahkan, dalam kondisi yang sangat parah akan muncul keinginan untuk bunuh diri atau membunuh bayinya.

“Gejala-gejala ini tentunya dapat mengancam bukan hanya kepada ibu, ternyata ini akan berdampak terhadap hubungan di ibu sendiri dengan suaminya, anak, ibu mertua, teman-teman, dan siapa pun,” ungkap Nuran.

Apabila ibu mempunyai pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayinya, segeralah mencari bantuan dari pasangan atau pang yang dipercaya yang bisa merawat ibu dan bayinya.

Dukungan pasangan, keluarga dan orang terdekat bisa sangat berarti untuk pemulihan ibu yang mengidap sindrom baby blues atau postpartum depression. (Sumber: kumparan.com).

Editor: Bintang