Mengenal Bio Solar dan Perbedaannya dengan Solar Biasa

Perbedaan Solar dan Biosolar. (Foto: shasolo.com)

Rimbanusa.id – Bio solar menjadi salah satu jenis bahan bakar yang semakin banyak digunakan di Indonesia, khususnya untuk kendaraan bermesin diesel. Penggunaan bahan bakar ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mendorong energi terbarukan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Secara sederhana, bio solar adalah bahan bakar diesel yang merupakan campuran antara solar berbasis minyak bumi dengan biodiesel yang berasal dari bahan nabati, seperti minyak kelapa sawit. Campuran ini dikenal dalam bentuk program seperti B30 atau B35, yang menunjukkan persentase kandungan biodiesel dalam bahan bakar tersebut.

Penggunaan bio solar tidak hanya ditujukan sebagai sumber energi kendaraan, tetapi juga sebagai langkah strategis dalam mendukung keberlanjutan lingkungan. Dengan adanya campuran biodiesel, emisi yang dihasilkan cenderung lebih rendah dibandingkan solar konvensional, sehingga dinilai lebih ramah lingkungan.

Dari sisi komposisi, perbedaan utama antara bio solar dan solar biasa terletak pada bahan dasarnya. Solar konvensional sepenuhnya berasal dari minyak bumi, sedangkan bio solar mengandung bahan organik yang telah diolah menjadi Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Hal ini memberikan karakteristik berbeda, baik dari sisi performa maupun dampak lingkungan.

Namun, dari segi energi, bio solar memiliki nilai kalor yang sedikit lebih rendah dibandingkan solar murni, yakni sekitar 11 persen lebih rendah. Meski demikian, bahan bakar ini tetap dapat digunakan secara optimal pada sebagian besar kendaraan diesel yang telah dirancang untuk menerima campuran biodiesel.

Selain itu, bio solar memiliki kandungan sulfur yang lebih rendah dibandingkan solar konvensional. Kandungan sulfur yang rendah berkontribusi terhadap pengurangan emisi gas buang, sehingga mendukung upaya pengendalian pencemaran udara.

Di sisi lain, bio solar memiliki kelemahan dalam hal stabilitas. Proses oksidasi pada bahan bakar ini cenderung lebih cepat, terutama jika disimpan dalam waktu lama. Oleh karena itu, penyimpanan yang tepat menjadi faktor penting untuk menjaga kualitas bahan bakar sebelum digunakan.

Penggunaan bio solar pada kendaraan diesel pada dasarnya sudah didukung oleh mayoritas mesin modern di Indonesia. Namun, produsen kendaraan tetap menyarankan pengguna untuk memperhatikan spesifikasi bahan bakar yang direkomendasikan agar performa mesin tetap optimal.

Selain itu, kendaraan diesel yang sudah berusia lama mungkin memerlukan penyesuaian atau perawatan tambahan jika menggunakan bio solar secara rutin. Hal ini bertujuan untuk menjaga sistem bahan bakar tetap bekerja dengan baik.

Program penggunaan bio solar juga menjadi bagian dari kebijakan energi nasional dalam mengembangkan bahan bakar alternatif. Pemerintah terus mendorong peningkatan campuran biodiesel sebagai langkah menuju kemandirian energi sekaligus mengurangi emisi karbon.

Dengan berbagai kelebihan dan tantangan yang dimiliki, bio solar menjadi salah satu solusi transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan. Penggunaan yang tepat serta perawatan kendaraan yang rutin menjadi kunci agar manfaat bahan bakar ini dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat. (Sumber: Auto2000.co.id)

Editor: Farhan