Rimbanusa.id – Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, membantah isu yang menyebut adanya rencana merger atau penggabungan antara Partai Gerindra dan Partai NasDem. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini tidak pernah ada pembicaraan, baik secara formal maupun informal, terkait wacana tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Dasco di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (21/4), menanggapi kabar yang beredar di publik mengenai kemungkinan penggabungan dua partai politik tersebut. Ia mengaku heran dengan munculnya isu tersebut karena tidak pernah ada komunikasi antarpartai yang mengarah pada rencana merger.
“Seperti yang disampaikan oleh NasDem, kami tidak pernah ada pembicaraan seperti itu. Kami juga bingung sumbernya dari mana,” ujar Dasco.
Menurut Dasco, klarifikasi yang telah disampaikan oleh pihak Partai NasDem sebelumnya dinilai sudah cukup untuk menjelaskan duduk perkara. Oleh karena itu, Gerindra tidak merasa perlu memperpanjang polemik terkait isu tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa hubungan antara Partai Gerindra dan NasDem tetap berjalan dalam konteks komunikasi politik yang biasa, tanpa ada agenda penggabungan organisasi. Dalam praktik politik Indonesia saat ini, kerja sama antarpartai lebih umum dilakukan dalam bentuk koalisi, bukan merger seperti dalam dunia korporasi.
Sebelumnya, isu merger ini mencuat setelah adanya spekulasi terkait dinamika politik pasca Pemilu 2024 dan pembentukan koalisi pemerintahan. Namun, sejumlah elite politik dari kedua partai telah membantah kabar tersebut.
Dari pihak NasDem, Wakil Ketua Umum Saan Mustopa juga menyatakan bahwa tidak ada pembahasan internal terkait wacana merger. Ia bahkan mengaku terkejut dengan munculnya isu tersebut dan menegaskan bahwa partainya saat ini masih fokus pada konsolidasi internal.
Selain itu, sejumlah pihak menilai istilah “merger” kurang tepat digunakan dalam konteks politik Indonesia. Dalam sistem kepartaian nasional, penggabungan partai lebih dikenal dengan istilah “fusi” yang pernah terjadi pada masa Orde Baru. Namun, praktik tersebut tidak lagi lazim dalam sistem demokrasi saat ini.
Dasco pun menilai isu ini sebaiknya tidak diperbesar karena tidak memiliki dasar yang jelas. Ia menekankan bahwa dinamika politik yang berkembang saat ini lebih mengarah pada penguatan koalisi dan kerja sama antarpartai, bukan penggabungan kelembagaan.
“NasDem sudah menjelaskan lebih dulu karena mereka yang menjadi subjek isu ini, jadi kami rasa itu sudah cukup,” tambahnya.
Isu merger Gerindra dan NasDem mencerminkan tingginya dinamika politik nasional pasca pemilu. Namun, klarifikasi dari kedua pihak menunjukkan bahwa spekulasi tersebut tidak berdasar.
Dengan bantahan ini, publik diharapkan tidak terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. Para elite politik juga mengimbau agar masyarakat lebih bijak dalam menyikapi berbagai isu politik yang berkembang, terutama yang belum memiliki kejelasan sumber dan fakta. (Sumber: Faiz Maulida/CNN Indonesia)
Editor: Farhan





